Kamis, 04 Februari 2010
Selasa, 01 Desember 2009
artikel biology
TEKNIK MENYELAM LABA-LABA LONCENG
Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh). (QS. Huud, 11: 6)
Laba-laba air yang hidup di daerah bersuhu hangat di Asia dan Eropa menghabiskan sebagian besar hidupnya di dalam air karena mereka membuat sarang di dalam air.
Untuk pembangunan sarangnya, laba-laba mula-mula mendirikan semacam panggung dengan merentangkan jaring-jaring di antara daun-daun atau tumbuhan air. Laba-laba mengaitkan panggung ini ke batang tanaman yang terdekat dengan benang sutra. Benang ini menjadi tanda bagi laba-laba untuk menunjukkan sarangnya, sebagai tali yang mengukuhkan panggung dan sebagai sistem “radar” yang memberitahukan kepadanya bila ada mangsa yang datang mendekat.
Setelah mendirikan panggung, laba-laba membawa gelembung-gelembung udara ke bawahnya dengan menggunakan kaki dan tubuhnya. Maka jaring-jaring tersebut menggelembung ke atas dan, dengan ditambahnya udara lagi, menjadi berbentuk seperti lonceng. Lonceng ini adalah sarang tempat laba-laba bernaung selama dia berada di bawah air. (gambar di kiri bawah).
Pada siang hari, laba-laba menunggu di sarang. Bila ada hewan kecil yang lewat, khususnya seekor serangga atau larva, laba-laba segera keluar untuk menangkap dan membawanya ke dalam sarang sehingga dapat dimakan. Seekor serangga yang jatuh ke air menyebabkan getaran. Karena merasakan adanya getaran ini, si laba-laba keluar, mengambil serangga tersebut dan membawanya ke dalam air. Laba-laba menggunakan permukaan air seolah-olah itu jaring-jaring. Keadaan yang dialami serangga saat jatuh ke air ini tak berbeda dengan keadaan mangsa apa yang terjebak di jaring.
Menjelang musim dingin, laba-laba perlu mengambil tindakan pencegahan untuk melindungi dirinya sendiri agar tidak membeku. Karena itulah, laba-laba air masuk lebih dalam lagi ke air. Kali ini, laba-laba membangun lonceng untuk musim dingin dan mengisinya dengan udara. Beberapa jenis laba-laba tinggal di dalam cangkang siput laut yang mereka temukan di kedalaman air. Laba-laba tetap diam tidak bergerak di dalam lonceng dan nyaris tidak menghabiskan energi sedikitpun selama melewati musim dingin. Laba-laba melakukan hal ini agar tidak kehilangan energi dan untuk menekan kebutuhan oksigen. Dengan tindakan yang disertai perhitungan ini, oksigen dalam gelembung udara yang dibawa laba-laba ke sarang dapat mencukupi kebutuhan hidup laba-laba selama musim dingin sampai 4-5 bulan.7
Nyatalah bahwa teknik berburu laba-laba dan gelembung yang diciptakannya sudah dirancang dengan cara yang paling sempurna agar laba-laba dapat hidup di dalam air. Makhluk yang biasa hidup di darat jelas tidak mungkin bisa menemukan cara tinggal di dalam air secara kebetulan. Jika makhluk ini tidak memiliki sifat dan alat yang dibutuhkan untuk hidup di dalam air, makhluk ini akan mati begitu dia memasuki air. Maka, Allah menciptakan makhluk daratan, yang dapat tinggal di dalam air karena dilengkapi kemampuan yang sesuai untuk itu, beserta semua ciri khasnya, dalam sekejap mata.
Dengan menciptakan contoh yang tiada taranya seperti laba-laba air ini, Allah memperkenalkan kepada kita pengetahuan dan kebijaksanaan-Nya yang tak terbatas.
Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh). (QS. Huud, 11: 6)
Laba-laba air yang hidup di daerah bersuhu hangat di Asia dan Eropa menghabiskan sebagian besar hidupnya di dalam air karena mereka membuat sarang di dalam air.
Untuk pembangunan sarangnya, laba-laba mula-mula mendirikan semacam panggung dengan merentangkan jaring-jaring di antara daun-daun atau tumbuhan air. Laba-laba mengaitkan panggung ini ke batang tanaman yang terdekat dengan benang sutra. Benang ini menjadi tanda bagi laba-laba untuk menunjukkan sarangnya, sebagai tali yang mengukuhkan panggung dan sebagai sistem “radar” yang memberitahukan kepadanya bila ada mangsa yang datang mendekat.
Setelah mendirikan panggung, laba-laba membawa gelembung-gelembung udara ke bawahnya dengan menggunakan kaki dan tubuhnya. Maka jaring-jaring tersebut menggelembung ke atas dan, dengan ditambahnya udara lagi, menjadi berbentuk seperti lonceng. Lonceng ini adalah sarang tempat laba-laba bernaung selama dia berada di bawah air. (gambar di kiri bawah).
Pada siang hari, laba-laba menunggu di sarang. Bila ada hewan kecil yang lewat, khususnya seekor serangga atau larva, laba-laba segera keluar untuk menangkap dan membawanya ke dalam sarang sehingga dapat dimakan. Seekor serangga yang jatuh ke air menyebabkan getaran. Karena merasakan adanya getaran ini, si laba-laba keluar, mengambil serangga tersebut dan membawanya ke dalam air. Laba-laba menggunakan permukaan air seolah-olah itu jaring-jaring. Keadaan yang dialami serangga saat jatuh ke air ini tak berbeda dengan keadaan mangsa apa yang terjebak di jaring.
Menjelang musim dingin, laba-laba perlu mengambil tindakan pencegahan untuk melindungi dirinya sendiri agar tidak membeku. Karena itulah, laba-laba air masuk lebih dalam lagi ke air. Kali ini, laba-laba membangun lonceng untuk musim dingin dan mengisinya dengan udara. Beberapa jenis laba-laba tinggal di dalam cangkang siput laut yang mereka temukan di kedalaman air. Laba-laba tetap diam tidak bergerak di dalam lonceng dan nyaris tidak menghabiskan energi sedikitpun selama melewati musim dingin. Laba-laba melakukan hal ini agar tidak kehilangan energi dan untuk menekan kebutuhan oksigen. Dengan tindakan yang disertai perhitungan ini, oksigen dalam gelembung udara yang dibawa laba-laba ke sarang dapat mencukupi kebutuhan hidup laba-laba selama musim dingin sampai 4-5 bulan.7
Nyatalah bahwa teknik berburu laba-laba dan gelembung yang diciptakannya sudah dirancang dengan cara yang paling sempurna agar laba-laba dapat hidup di dalam air. Makhluk yang biasa hidup di darat jelas tidak mungkin bisa menemukan cara tinggal di dalam air secara kebetulan. Jika makhluk ini tidak memiliki sifat dan alat yang dibutuhkan untuk hidup di dalam air, makhluk ini akan mati begitu dia memasuki air. Maka, Allah menciptakan makhluk daratan, yang dapat tinggal di dalam air karena dilengkapi kemampuan yang sesuai untuk itu, beserta semua ciri khasnya, dalam sekejap mata.
Dengan menciptakan contoh yang tiada taranya seperti laba-laba air ini, Allah memperkenalkan kepada kita pengetahuan dan kebijaksanaan-Nya yang tak terbatas.
artikel biologi
Apakah mungkin sekuntum bunga bisa menyadari kecenderungan seekor serangga? Apakah mungkin bunga membuat rencana agar serangga jatuh ke dalam perangkapnya serta mengubah dirinya agar cocok dengan tujuan ini? Tidak dapat diragukan lagi, tidak mungkin bunga atau serangga menjalankan taktik atau siasat sedemikian hanya berdasarkan keinginan dan akalnya sendiri. Namun demikian, bila kita mengamati makhluk-makhluk di alam ini, kita tahu bahwa mereka sering menerapkan jenis-jenis taktik semacam itu.
Anggrek Coryanthes adalah salah satu tumbuhan yang mampu menjebak serangga agar jatuh ke dalam perangkapnya dengan menggunakan taktik yang menarik. Sistem reproduksi anggrek ini didasarkan pada memikat serangga dan memanfaatkannya untuk membawa serbuk sarinya. Bunga-bunga anggrek jenis ini tumbuh berkelompok. Setiap bunga memiliki dua helai kelopak yang mirip sayap dan tepat di belakang kedua helai ini terdapat sebuah “ember” kecil. Bila bunga membuka, cairan khusus yang dikeluarkan oleh dua kelenjar khusus mulai menetes ke dalam ember tersebut. Tak lama kemudian bunga pun mulai memancarkan wangi-wangian yang sangat menarik bagi lebah.
Sejalan dengan mekarnya anggrek, lebah jantan bereaksi terhadap aroma wangi tersebut dan mulai terbang di sekitar bunga. Sewaktu lebah mencoba hinggap di sisi tegak pada anggrek, lebah juga mencari tempat untuk bergantung dengan kakinya, seperti bagian berbentuk tabung dari bunga yang menghubungkan ember dengan batangnya. Bagian ini licin dan miring. Karena itu, lebah yang merangkak pada bunga pasti akan terjatuh ke dalam ember yang terisi cairan di dasar bunga.
Hanya ada satu jalan keluar bagi lebah yang telah terjatuh ke dalam bunga. Sebuah lorong sempit yang menuju ke dinding bunga bagian depan, yaitu, yang menuju cahaya matahari di luar. Selama serangga mencari-cari jalan keluar ini, yang berada pada ketinggian yang sama dengan tinggi cairan yang dimasukinya, lebah tetap berenang di cairan. Saat mencoba menemukan jalan keluar, lebah melewati bagian bawah stigma, yang mengandung serbuk sari, dan organ jantan bunga. Pada saat itu, dua kantung serbuk sari tertempel di bagian belakang serangga. Lalu serangga bergegas menuju jalan keluar dan akhirnya meninggalkan bunga. Saat lebah menghampiri bunga yang lain, kali ini yang terjadi adalah stigma bunga itu menarik serbuk sari dari serangga, dan dengan cara ini, penyerbukan pun dimulai.5
Namun, situasi ini tidak cuma membawa manfaat bagi bunga saja. Cairan yang ada dalam ember bunga tempat jatuhnya lebah juga sangat penting bagi lebah, karena lebah jantan akan menggunakan keharuman cairan yang melumuri tubuhnya itu untuk menarik lebah betina selama perkawinan.
Seperti yang telah kami sebutkan di depan, sama sekali tidak mungkin bunga mengembangkan siasat untuk memperdaya seekor serangga dan merancang strukturnya agar sesuai dengan taktik ini. Begitu pula halnya, tentulah tidak mungkin seekor serangga mengembangkan taktik untuk memperoleh zat yang diperlukannya dari sekuntum bunga dengan hanya mengandalkan kemauannya sendiri. Kerjasama yang mengagumkan antara dua makhluk ini adalah bukti nyata akan fakta bahwa keduanya diciptakan oleh Pencipta yang tiada duanya.
arikel biologi
MENARA SI RAYAP BUTA
Mungkinkah pekerja yang buta mendirikan bangunan setinggi Gedung Empire State? Prestasi sedemikian adalah tidak mungkin bagi manusia. Tetapi, rayap yang buta, sepanjang hidupnya, sanggup membangun sarang setinggi Gedung Empire State, pada perbandingan yang setara dengan ukuran tubuh mereka.
Salah satu ciri penting rayap adalah mereka membuat sarang yang begitu kuat sehingga manusia pun hanya dapat menghancurkannya dengan susah-payah. Rayap-rayap membangun berbagai jenis sarang disesuaikan dengan kebutuhan mereka. Ada yang membangun sarang sebagai perlindungan terhadap panas yang membakar, ada pula yang membangun sarangnya untuk berteduh dari hujan. Sarang-sarang ini dapat dibangun di bawah maupun di atas tanah atau bahkan di dalam pohon.
Bila kita melihat ke dalam sarang rayap, kita dapat melihat penampilannya yang seperti spons. Sarang itu terdiri dari banyak lubang yang lebarnya sekitar 2,5 cm (1 inci) atau kurang dari itu. Lubang-lubang ini terhubungkan satu sama lain oleh lorong yang hanya dapat dilewati oleh rayap. Bahan mentah yang digunakan rayap saat membuat bangunan yang mengagumkan ini hanya terdiri dari tanah, air liurnya, dan kotoran atau zat buangan tubuh. Dengan menggunakan bahan-bahan sederhana tersebut, sebagian rayap membuat sarang yang sangat kuat sehingga hanya dapat dihancurkan dengan menggunakan dinamit, dan sarang ini juga memiliki sistem yang begitu teperinci seperti labirin, saluran peredaran udara, dan lorong.
Segi utama paling menakjubkan dari rayap yang dapat membangun sarang berupa menara yang hebat ini, sebagaimana telah disebutkan di atas, adalah karena rayap sama sekali buta. Ini hal yang paling penting. Rayap tidak dapat melihat terowongan yang dibuatnya, tidak juga bahan dan tanah yang digunakannya, maupun lubang-lubang yang dibangunnya.
Bila hasil karya rayap dan manusia dibandingkan, keajaiban pada apa yang dilakukan rayap bahkan dapat lebih jelas dilihat. Maka, agar kita bisa membuat penilaian yang lebih baik atas “pencakar langit” yang dibangun rayap, Gedung Empire State di New York, Amerika, bisa menjadi pembanding yang cocok. Gedung tersebut tingginya 443 meter (1453 kaki). Rayap adalah serangga berukuran 1-2 cm (0,4-0,8 inci). Walaupun tubuhnya amat kecil, rayap membangun sarang raksasa yang menjulang hingga 7 meter (23 kaki) tingginya. Jika rayap sama tingginya dengan manusia, sarang spektakuler buatan mereka akan berukuran empat kali lebih tinggi daripada Gedung Empire State. Rayap telah melakukan pekerjaan yang luar biasa, yang bahkan tidak dapat dicapai oleh manusia, selama berjuta-juta tahun sejak mereka diciptakan.
Dia Yang telah menciptakan rayap dengan semua karakteristiknya adalah Allah. Dengan mengaruniai rayap kemampuan untuk membuat bangunan yang hebat, Dia, Penguasa segala sesuatu, memperkenalkan kepada kita kekuasaan-Nya dan pengetahuan-Nya yang tidak terbatas. Seperti yang diungkapkan-Nya dalam Al Qur‘an:
Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu. (QS. Az Zumar, 39: 62)
Mungkinkah pekerja yang buta mendirikan bangunan setinggi Gedung Empire State? Prestasi sedemikian adalah tidak mungkin bagi manusia. Tetapi, rayap yang buta, sepanjang hidupnya, sanggup membangun sarang setinggi Gedung Empire State, pada perbandingan yang setara dengan ukuran tubuh mereka.
Salah satu ciri penting rayap adalah mereka membuat sarang yang begitu kuat sehingga manusia pun hanya dapat menghancurkannya dengan susah-payah. Rayap-rayap membangun berbagai jenis sarang disesuaikan dengan kebutuhan mereka. Ada yang membangun sarang sebagai perlindungan terhadap panas yang membakar, ada pula yang membangun sarangnya untuk berteduh dari hujan. Sarang-sarang ini dapat dibangun di bawah maupun di atas tanah atau bahkan di dalam pohon.
Bila kita melihat ke dalam sarang rayap, kita dapat melihat penampilannya yang seperti spons. Sarang itu terdiri dari banyak lubang yang lebarnya sekitar 2,5 cm (1 inci) atau kurang dari itu. Lubang-lubang ini terhubungkan satu sama lain oleh lorong yang hanya dapat dilewati oleh rayap. Bahan mentah yang digunakan rayap saat membuat bangunan yang mengagumkan ini hanya terdiri dari tanah, air liurnya, dan kotoran atau zat buangan tubuh. Dengan menggunakan bahan-bahan sederhana tersebut, sebagian rayap membuat sarang yang sangat kuat sehingga hanya dapat dihancurkan dengan menggunakan dinamit, dan sarang ini juga memiliki sistem yang begitu teperinci seperti labirin, saluran peredaran udara, dan lorong.
Segi utama paling menakjubkan dari rayap yang dapat membangun sarang berupa menara yang hebat ini, sebagaimana telah disebutkan di atas, adalah karena rayap sama sekali buta. Ini hal yang paling penting. Rayap tidak dapat melihat terowongan yang dibuatnya, tidak juga bahan dan tanah yang digunakannya, maupun lubang-lubang yang dibangunnya.
Bila hasil karya rayap dan manusia dibandingkan, keajaiban pada apa yang dilakukan rayap bahkan dapat lebih jelas dilihat. Maka, agar kita bisa membuat penilaian yang lebih baik atas “pencakar langit” yang dibangun rayap, Gedung Empire State di New York, Amerika, bisa menjadi pembanding yang cocok. Gedung tersebut tingginya 443 meter (1453 kaki). Rayap adalah serangga berukuran 1-2 cm (0,4-0,8 inci). Walaupun tubuhnya amat kecil, rayap membangun sarang raksasa yang menjulang hingga 7 meter (23 kaki) tingginya. Jika rayap sama tingginya dengan manusia, sarang spektakuler buatan mereka akan berukuran empat kali lebih tinggi daripada Gedung Empire State. Rayap telah melakukan pekerjaan yang luar biasa, yang bahkan tidak dapat dicapai oleh manusia, selama berjuta-juta tahun sejak mereka diciptakan.
Dia Yang telah menciptakan rayap dengan semua karakteristiknya adalah Allah. Dengan mengaruniai rayap kemampuan untuk membuat bangunan yang hebat, Dia, Penguasa segala sesuatu, memperkenalkan kepada kita kekuasaan-Nya dan pengetahuan-Nya yang tidak terbatas. Seperti yang diungkapkan-Nya dalam Al Qur‘an:
Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu. (QS. Az Zumar, 39: 62)
Minggu, 22 November 2009
berrrrrrrrrr...berrrrrrrrrr
Free Twitter Backgrounds
wewewewekkkkkkkkkkkkkk..........
Myspace Animated Comments
ber...................rrrrrrrrrrrrrrrrrrrr]
Myspace Animated Comments & Graphics
mana janji manismu......kutunggu...dan kutunggu
Sabtu, 21 November 2009
bingung mikir ulangan
SoloCyberCity
hari ni gue sebel buanget.....4 jam harus ulangan.

SoloCyberCity
haaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh......bawaan pengen marah.

SoloCyberCity
hehehehehehehe..............

SoloCyberCity
ni yang bikin gue....tertawa.......godain para janda-janda...hehehehe

SoloCyberCity
hati-hati dengan gue....heheheheheh,,,,,,,

SoloCyberCity
Rabu, 18 November 2009
artikel jaringan hewan
JARINGAN DASAR HEWAN
Tujuan : Mengenal tipe-tipe jaringan dasar yang ditemukan pada hewan.
PENDAHULUAN
Tubuh hewan terdiri atas jaringan-jaringan atau sekelompok sel yang mempunyai
struktur dan fungsi yang sama. Jaringan dengan struktur yang khusus memungkinkan
mereka mempunyai fungsi yang spesifik. Sebagai contoh, otot-otot jantung yang
bercabang menghubungkan sel-jantung yang lainnya. Percabangan tersebut membantu
kontraksi sel-sel dalam satu koordinasi (Campbell et al. 1999). Ilmu yang mempelajari
jaringan disebut histologi. Jaringan didalam tubuh hewan mempunyai sifat yang khusus
dalam melakukan fungsinya, seperti peka dan pengendali (jaringan saraf), gerakan
(jaringan otot), penunjang dan pengisi tubuh (jaringan ikat), absorbsi dan sekresi
(jaringan epitel), bersifat cair (darah) dan lainnya. Masing-masing jaringan dasar
dibedakan lagi menjadi beberapa tipe khusus sesuai dengan fungsinya. Padasaat
perkembangan embrio, lapisan kecambah (germ layers) berdiferensiasi (dengan proses
yang disebut histogenesis) menjadi empat macam jaringan utama, yaitu jaringan epitel,
jaringan pengikat, jaringan otot, dan jaringan saraf.
1. Jaringan Epithelium
Jaringan epitel terdiri atas satu atau banyak lapis sel, yang menutupi permukaan
dalam dan luar suatu organ. Secara embriologi, jaringan ini berasal dari lapisan ektoderm,
mesoderm atau endoderm. Di bagian tubuh luar, epitel ini membentuk lapisan pelindung,
sedangkan pada bagian dalam tubuh, jaringan epitel terdapat disepanjang sisi organ.
Jaringan epitel dibedakan berdasarkan bentuk dan jumlah lapisan sel penyusunnya, yaitu
(1) epithelium satu lapis (simple epithelium). Epithel ini terdiri atas sel-sel berbentuk
pipih, kubus, dan silindris (batang). Epithelium pipih selapis ditemukan antara lain pada
lapisan endotel pembuluh darah. Epithelium bentuk kubus ditemukan pada kelenjar
tyroid dan pembuluh darah. Epithel berbentuk silindris (batang) ditemukan pada lambung
dan usus. (2) Epithelium berlapis banyak (stratified epithelium) yang dibentuk oleh
beberapa lapis sel yang berbentuk pipih, kuboid, atau silindris. Epithelium ini dapat
ditemukan pada kulit, kelenjar keringat, dan uretra. Beberapa lapisan pada epitheliun ini
dapat berubah menjadi sel-sel yang memanjang dan disebut epithelium transisional.
Epitel transisional ditemukan pada kandung kemih (vesica urinaria). Disamping itu,
terdapat epithelium berlapis banyak semu (pseudostratified epithelium) yang ditemukan
pada trakea.
Epitel pipih berlapis, seperti yang terdapat di pemukaan kulit kita, mampu
melakukan mitosis dengan cepat. Sel-sel baru hasil mitosis menggantikan sel-sel
permukaan yang mati. Epitel ini juga sebagai pelindung oragan terhadap abrasi oleh
makanan yang kasar, seperti yang ditemukan pada esofagus. Sebaliknya, epitelium pipih
selapis berukuran tipis dan lemah, yang cocok untuk pertukaran material dengan cara
difusi. Epitel ini ditemukan pada dinding kapiler darah dan alveoli paru-paru (Campbell
et al. 1999).
2. Jaringan Ikat
Jaringan ikat berfungsi untuk menunjang tubuh, dibentuk oleh sel-sel dalam jumlah
sedikit. Jaringan ikat terdiri atas populasi sel yang tersebar di dalam matrik ekstraseluler.
Secara embriologi, jaringan ikat berasal dari lapisan mesoderm. Se-sel tersebut
mensistesis matriks, dengan anyaman serat yang tertanam di dalamnya (Campbell et al.
1999). Jaringan ikat ini dapat dibedakan menjadi (1) jaringan ikat longgar dan (2)
jaringan ikat padat, (3) jaringan lemak, (4) jaringan darah, (5) kartilago, dan (6) tulang.
Diantara enam tipe jaringan ikat, jaringan ikat longgar paling banyak ditemukan di
dalam tubuh kita. Di dalam matriks jaringan ikat longgar ini hanya sedikit ditemukan
serabut. Serabut penyusun jaringan ikat ini berupa kolagen. Fungsi utama jaringan ikat
longgar adalah pengikat dan pengepak material, dan sebagai tumbuhan bagi jaringan dan
organ lainnya. Jaringan ikat longgar di kulit membatasi dengan otot (Campbell et al.
1999).
Jaringan ikat padat/fibrous mempunyai matriks yang banyak mengandung serabut
kolagen. Jaringan ini membentuk tendon sebagai tempat perlekatan otot dengan tulang,
dan ligamen sebagai tempat persendian tulang dengan tulang (Campbell et al. 1999).
Jaringan lemak mengandung sel-sel lemak. Jaringan ini digunakan sebagai bantalan,
dan melindungi tubuh, serta sebagai penyimpan energi. Setiap sel lemak, mengandung
tetes lemak yang besar. Didalam jaringan lemak, matriks relatif sedikt (Campbell et al.
1999).
Darah adalah jaringan ikat yang tersusun sebagian besar cairan. Matriks darah
disebut plasma, yang tersusun oleh air, garam mineral, dan protein terlarut. Sel darah
merah dan putih tersuspensi di dalam plasma. Darah ini berfungsi utama dalam transpor
substansi dari satu bagian tubuh ke bagian lain. Disamping itu, darah juga berperan dalam
sistem kekebalan (Campbell et al. 1999).
Kartilago adalah jaringan ikat yang membentuk material rangka yang fleksibel dan
kuat, terdiri atas serabut kolgen yang tertanam di dalam matriks. Kartilago banyak
ditemukan pada bagian ujung tulang keras, hidung, telinga, dan vertebrae (ruas-ruas
tulang belakang) (Campbell et al. 1999).
Tulang keras (bone) merupakan jaringan ikat yang kaku, keras, dengan serabut
kolagen yang tertanam di dalam matriks (Campbell et al. 1999). Didalam matriks sel
tulang terdapat kalsium yang dapat bergerak dan diserap oleh darah. Hal ini merupakan
peran penting tulang dalam proses homeostasis kadar kalsium dalam darah. Sel tulang
(osteosit) terdapat di dalam ruang yang disebut lakuna. Lakuna ini mengandung satu atau
beberapa osteosit. Penjuluran yang keluar dari osteosit disebut kanalikuli. Kanalikuli dari
satu sel berhubungan dengan sel lainnya, sebagai bentuk komunikasi sel. Satu osteon
terdiri dari sejumlah lamela konsentris yang mengelilingi kanal sentral (kanalis Haversi).
Pada individu yang masih hidup, kanal sentral ini berisi pembuluh darah.
3. Jaringan Otot
Secara embriologi, jaringan otot berasal dari lapisan mesoderm. Jaringan ini terdiri
atas sel-sel yang memanjang atau berbentuk serabut yang dapat berkontraksi karena
adanya molekul miofibril. Pada vertebrata, secara tipikal mempunyai tiga jenis otot, yaitu
otot skelet (rangka), otot jantung (cardiac), dan otot polos (Campbell et al. 1999).
Otot skelet berstruktur bergaris melintang, berfungsi untuk menggerakkan rangka.
Otot ini bersifat sadar (voluntary), karena mampu diatur oleh kemauan kita. Serabut
ototnya mempunyai banyak nukleus yang terletak ditepi. Otot rangka mempunyai garis
melintang yang gelap (pita anisotrop) dan garis terang (pita isotrop).
Otot jantung merupakan otot bergaris melintang dan bercabang. Sifat otot ini tidak
sadar (involuntary), karena kontraksinya tidak bisa diatur oleh kemauan kita. Nukleus
terletak ditengah sel. Pada bagian ujung sel, terdapat sambungan rapat, yang membentuk
struktur pembawa sinyal untuk kontraksi dari satu sel ke sel lainnya selama denyut
jantung (Campbell et al. 1999).
Otot polos berbentuk seperti spindle. Kontraksi otot polos lebih lambat
dinbbandingkan otot skelet, namun mereka mampu kontraksi dalam waktu lebih lama.
Otot polos bersifat tidak sadar (involuntary), seperti otot jantung. Otot polos ditemukan
pada banyak organ tubuh, diantaranya terdapat pada dinding pembuluh darah dan
melapisi organ dalam seperti usus dan uterus. Membran plasmanya disebut sarkolema
dan sitoplasmanya sering disebut sarkoplasma. Sitoplasma yang mengandung miofibril
dengan ketebalan mencapai 1 mikron.
4. Jaringan Saraf
Jaringan saraf berperan dalam penerimaan rangsang dan penyampaian rangsang.
Secara embriologi, jaringan ini berasal dari lapisan ektoderm. Jaringan ini terdapat pada
sistem saraf pusat (otak dan sumsum tulang belakang) dan pada sistim saraf tepi. Ada dua
macam sel, yaitu sel saraf (neuron) dan sel pendukung (sel glia). Neuron mengandung
badan sel, nukleus, dan penjuluran atau serabut. Satu tipe penjuluran tersebut adalah
dendrit, yang berperan dalam menerima sinyal dari sel lain dan meneruskannya ke badan
sel. Tipe penjuluran sel saraf yang lain, disebut akson (neurit), yang berperan dalam
meneruskan sinyal dari badan sel ke neuron lainnya. Beberapa akson berukuran sangat
panjang, yaitu memanjang dari otak sampai ke bagian bawah abdomen (panjang 1/2
meter atau lebih). Transmisi sinyal dari neuron ke neuron lainnya umumnya dilakukan
secara kimia. Selain neuron, ditemukan juga sel pendukung, seperti sel glia. Sel glia
merupakan sel yang menunjang dan melindungi neuron. Sel-sel pendukung umumnya
berperan dalam melindungi dan membungkus akson dan dendrit, sehingga membantu
mempercepat transmisi sinyal (Campbell et al. 1999).
ALAT DAN BAHAN
Alat dan Bahan :
1. Mikroskop cahaya
2. Preparat awetan epitelium pipih, kubus, dan kolumner selapis.
3. Preparat awetan jaringan ikat.
4. Preparat awetan otot polos, skelet, dan jantung.
5. Preparat awetan jaringan saraf.
CARA KERJA
Preparat Epitelium.
1. Mintalah preparat epitelium pipih, kubus, dan kolumner selapis pada asisten anda dan
dengan menggunakan mikroskop, amati preparat dengan perbesaran lemah (10X10),
kemudian dengan perbesaran kuat (10X40).
2. Gambar hasil pengamatan anda baik dengan perbesaran lemah dan perbesaran kuat.
Dengan perbesaran kuat, amati setiap tipe epitelium : bentuk sel, jumlah inti, letak
inti, dan ciri morfologi lainnya. Lengkapi gambar anda dengan keterangan.
Preparat Tulang Padat.
1. Mintalah preparat tulang padat pada asisten anda dan dengan menggunakan
mikroskop, amati preparat dengan perbesaran lemah (10X10), kemudian dengan
perbesaran kuat (10X40).
2. Gambar hasil pengamatan anda baik dengan perbesaran lemah dan perbesaran kuat.
Dengan perbesaran kuat, amati satu buah sistem osteon, yang terdiri atas lakuna,
kanal sentral, lamela tulang, kanalikuli, dan kanalis Haversi. Lengkapi gambar anda
dengan keterangan.
Preparat Otot Polos.
1. Mintalah preparat otot polos pada asisten anda dan dengan menggunakan mikroskop,
amati preparat dengan perbesaran lemah (10X10), kemudian dengan perbesaran kuat
(10X40).
2. Gambar hasil pengamatan anda dan beri keterangan selengkapnya.
Preparat Otot Skelet.
1. Mintalah preparat otot skelet pada asisten anda dan dengan menggunakan mikroskop,
amati preparat dengan perbesaran lemah (10X10 ), kemudian dengan perbesaran kuat
(10X40).
2. Amati preparat otot serat melintang irisan membujur dan irisan melintang, dengan
menggunakan perbesaran kuat tentang bentuk sel yang berupa serabut dan adanya
inti, garis gelap (anisotrop) dan garis terang (isotrop). Dimanakah letak intinya?
3. Gambar preparat anda dan beri keterangan selengkapnya.
Preparat Otot Jantung.
1. Mintalah preparat otot jantung pada asisten anda dan dengan menggunakan mikroskop,
amati preparat dengan perbesaran lemah (10X10 ), kemudian dengan perbesaran kuat
(10X40).
2. Amati preparat anda dengan menggunakan perbesaran lemah dan kuat dan bandingkan
dengan preparat otot rangka.
3. Gambar preparat anda dan beri keterangan selengkapnya.
Preparat Jaringan Saraf.
1. Mintalah jaringan saraf pada asisten anda dan dengan menggunakan mikroskop, amati
preparat dengan perbesaran lemah (10X10), kemudian dengan perbesaran kuat
(10X40).
2. Gambar hasil pengamatan anda baik dengan perbesaran lemah dan perbesaran kuat.
Dengan perbesaran kuat, amati satu neuron : badan sel, inti, akson, dan dendrit.
Lengkapi gambar anda dengan keterangan.
Tujuan : Mengenal tipe-tipe jaringan dasar yang ditemukan pada hewan.
PENDAHULUAN
Tubuh hewan terdiri atas jaringan-jaringan atau sekelompok sel yang mempunyai
struktur dan fungsi yang sama. Jaringan dengan struktur yang khusus memungkinkan
mereka mempunyai fungsi yang spesifik. Sebagai contoh, otot-otot jantung yang
bercabang menghubungkan sel-jantung yang lainnya. Percabangan tersebut membantu
kontraksi sel-sel dalam satu koordinasi (Campbell et al. 1999). Ilmu yang mempelajari
jaringan disebut histologi. Jaringan didalam tubuh hewan mempunyai sifat yang khusus
dalam melakukan fungsinya, seperti peka dan pengendali (jaringan saraf), gerakan
(jaringan otot), penunjang dan pengisi tubuh (jaringan ikat), absorbsi dan sekresi
(jaringan epitel), bersifat cair (darah) dan lainnya. Masing-masing jaringan dasar
dibedakan lagi menjadi beberapa tipe khusus sesuai dengan fungsinya. Padasaat
perkembangan embrio, lapisan kecambah (germ layers) berdiferensiasi (dengan proses
yang disebut histogenesis) menjadi empat macam jaringan utama, yaitu jaringan epitel,
jaringan pengikat, jaringan otot, dan jaringan saraf.
1. Jaringan Epithelium
Jaringan epitel terdiri atas satu atau banyak lapis sel, yang menutupi permukaan
dalam dan luar suatu organ. Secara embriologi, jaringan ini berasal dari lapisan ektoderm,
mesoderm atau endoderm. Di bagian tubuh luar, epitel ini membentuk lapisan pelindung,
sedangkan pada bagian dalam tubuh, jaringan epitel terdapat disepanjang sisi organ.
Jaringan epitel dibedakan berdasarkan bentuk dan jumlah lapisan sel penyusunnya, yaitu
(1) epithelium satu lapis (simple epithelium). Epithel ini terdiri atas sel-sel berbentuk
pipih, kubus, dan silindris (batang). Epithelium pipih selapis ditemukan antara lain pada
lapisan endotel pembuluh darah. Epithelium bentuk kubus ditemukan pada kelenjar
tyroid dan pembuluh darah. Epithel berbentuk silindris (batang) ditemukan pada lambung
dan usus. (2) Epithelium berlapis banyak (stratified epithelium) yang dibentuk oleh
beberapa lapis sel yang berbentuk pipih, kuboid, atau silindris. Epithelium ini dapat
ditemukan pada kulit, kelenjar keringat, dan uretra. Beberapa lapisan pada epitheliun ini
dapat berubah menjadi sel-sel yang memanjang dan disebut epithelium transisional.
Epitel transisional ditemukan pada kandung kemih (vesica urinaria). Disamping itu,
terdapat epithelium berlapis banyak semu (pseudostratified epithelium) yang ditemukan
pada trakea.
Epitel pipih berlapis, seperti yang terdapat di pemukaan kulit kita, mampu
melakukan mitosis dengan cepat. Sel-sel baru hasil mitosis menggantikan sel-sel
permukaan yang mati. Epitel ini juga sebagai pelindung oragan terhadap abrasi oleh
makanan yang kasar, seperti yang ditemukan pada esofagus. Sebaliknya, epitelium pipih
selapis berukuran tipis dan lemah, yang cocok untuk pertukaran material dengan cara
difusi. Epitel ini ditemukan pada dinding kapiler darah dan alveoli paru-paru (Campbell
et al. 1999).
2. Jaringan Ikat
Jaringan ikat berfungsi untuk menunjang tubuh, dibentuk oleh sel-sel dalam jumlah
sedikit. Jaringan ikat terdiri atas populasi sel yang tersebar di dalam matrik ekstraseluler.
Secara embriologi, jaringan ikat berasal dari lapisan mesoderm. Se-sel tersebut
mensistesis matriks, dengan anyaman serat yang tertanam di dalamnya (Campbell et al.
1999). Jaringan ikat ini dapat dibedakan menjadi (1) jaringan ikat longgar dan (2)
jaringan ikat padat, (3) jaringan lemak, (4) jaringan darah, (5) kartilago, dan (6) tulang.
Diantara enam tipe jaringan ikat, jaringan ikat longgar paling banyak ditemukan di
dalam tubuh kita. Di dalam matriks jaringan ikat longgar ini hanya sedikit ditemukan
serabut. Serabut penyusun jaringan ikat ini berupa kolagen. Fungsi utama jaringan ikat
longgar adalah pengikat dan pengepak material, dan sebagai tumbuhan bagi jaringan dan
organ lainnya. Jaringan ikat longgar di kulit membatasi dengan otot (Campbell et al.
1999).
Jaringan ikat padat/fibrous mempunyai matriks yang banyak mengandung serabut
kolagen. Jaringan ini membentuk tendon sebagai tempat perlekatan otot dengan tulang,
dan ligamen sebagai tempat persendian tulang dengan tulang (Campbell et al. 1999).
Jaringan lemak mengandung sel-sel lemak. Jaringan ini digunakan sebagai bantalan,
dan melindungi tubuh, serta sebagai penyimpan energi. Setiap sel lemak, mengandung
tetes lemak yang besar. Didalam jaringan lemak, matriks relatif sedikt (Campbell et al.
1999).
Darah adalah jaringan ikat yang tersusun sebagian besar cairan. Matriks darah
disebut plasma, yang tersusun oleh air, garam mineral, dan protein terlarut. Sel darah
merah dan putih tersuspensi di dalam plasma. Darah ini berfungsi utama dalam transpor
substansi dari satu bagian tubuh ke bagian lain. Disamping itu, darah juga berperan dalam
sistem kekebalan (Campbell et al. 1999).
Kartilago adalah jaringan ikat yang membentuk material rangka yang fleksibel dan
kuat, terdiri atas serabut kolgen yang tertanam di dalam matriks. Kartilago banyak
ditemukan pada bagian ujung tulang keras, hidung, telinga, dan vertebrae (ruas-ruas
tulang belakang) (Campbell et al. 1999).
Tulang keras (bone) merupakan jaringan ikat yang kaku, keras, dengan serabut
kolagen yang tertanam di dalam matriks (Campbell et al. 1999). Didalam matriks sel
tulang terdapat kalsium yang dapat bergerak dan diserap oleh darah. Hal ini merupakan
peran penting tulang dalam proses homeostasis kadar kalsium dalam darah. Sel tulang
(osteosit) terdapat di dalam ruang yang disebut lakuna. Lakuna ini mengandung satu atau
beberapa osteosit. Penjuluran yang keluar dari osteosit disebut kanalikuli. Kanalikuli dari
satu sel berhubungan dengan sel lainnya, sebagai bentuk komunikasi sel. Satu osteon
terdiri dari sejumlah lamela konsentris yang mengelilingi kanal sentral (kanalis Haversi).
Pada individu yang masih hidup, kanal sentral ini berisi pembuluh darah.
3. Jaringan Otot
Secara embriologi, jaringan otot berasal dari lapisan mesoderm. Jaringan ini terdiri
atas sel-sel yang memanjang atau berbentuk serabut yang dapat berkontraksi karena
adanya molekul miofibril. Pada vertebrata, secara tipikal mempunyai tiga jenis otot, yaitu
otot skelet (rangka), otot jantung (cardiac), dan otot polos (Campbell et al. 1999).
Otot skelet berstruktur bergaris melintang, berfungsi untuk menggerakkan rangka.
Otot ini bersifat sadar (voluntary), karena mampu diatur oleh kemauan kita. Serabut
ototnya mempunyai banyak nukleus yang terletak ditepi. Otot rangka mempunyai garis
melintang yang gelap (pita anisotrop) dan garis terang (pita isotrop).
Otot jantung merupakan otot bergaris melintang dan bercabang. Sifat otot ini tidak
sadar (involuntary), karena kontraksinya tidak bisa diatur oleh kemauan kita. Nukleus
terletak ditengah sel. Pada bagian ujung sel, terdapat sambungan rapat, yang membentuk
struktur pembawa sinyal untuk kontraksi dari satu sel ke sel lainnya selama denyut
jantung (Campbell et al. 1999).
Otot polos berbentuk seperti spindle. Kontraksi otot polos lebih lambat
dinbbandingkan otot skelet, namun mereka mampu kontraksi dalam waktu lebih lama.
Otot polos bersifat tidak sadar (involuntary), seperti otot jantung. Otot polos ditemukan
pada banyak organ tubuh, diantaranya terdapat pada dinding pembuluh darah dan
melapisi organ dalam seperti usus dan uterus. Membran plasmanya disebut sarkolema
dan sitoplasmanya sering disebut sarkoplasma. Sitoplasma yang mengandung miofibril
dengan ketebalan mencapai 1 mikron.
4. Jaringan Saraf
Jaringan saraf berperan dalam penerimaan rangsang dan penyampaian rangsang.
Secara embriologi, jaringan ini berasal dari lapisan ektoderm. Jaringan ini terdapat pada
sistem saraf pusat (otak dan sumsum tulang belakang) dan pada sistim saraf tepi. Ada dua
macam sel, yaitu sel saraf (neuron) dan sel pendukung (sel glia). Neuron mengandung
badan sel, nukleus, dan penjuluran atau serabut. Satu tipe penjuluran tersebut adalah
dendrit, yang berperan dalam menerima sinyal dari sel lain dan meneruskannya ke badan
sel. Tipe penjuluran sel saraf yang lain, disebut akson (neurit), yang berperan dalam
meneruskan sinyal dari badan sel ke neuron lainnya. Beberapa akson berukuran sangat
panjang, yaitu memanjang dari otak sampai ke bagian bawah abdomen (panjang 1/2
meter atau lebih). Transmisi sinyal dari neuron ke neuron lainnya umumnya dilakukan
secara kimia. Selain neuron, ditemukan juga sel pendukung, seperti sel glia. Sel glia
merupakan sel yang menunjang dan melindungi neuron. Sel-sel pendukung umumnya
berperan dalam melindungi dan membungkus akson dan dendrit, sehingga membantu
mempercepat transmisi sinyal (Campbell et al. 1999).
ALAT DAN BAHAN
Alat dan Bahan :
1. Mikroskop cahaya
2. Preparat awetan epitelium pipih, kubus, dan kolumner selapis.
3. Preparat awetan jaringan ikat.
4. Preparat awetan otot polos, skelet, dan jantung.
5. Preparat awetan jaringan saraf.
CARA KERJA
Preparat Epitelium.
1. Mintalah preparat epitelium pipih, kubus, dan kolumner selapis pada asisten anda dan
dengan menggunakan mikroskop, amati preparat dengan perbesaran lemah (10X10),
kemudian dengan perbesaran kuat (10X40).
2. Gambar hasil pengamatan anda baik dengan perbesaran lemah dan perbesaran kuat.
Dengan perbesaran kuat, amati setiap tipe epitelium : bentuk sel, jumlah inti, letak
inti, dan ciri morfologi lainnya. Lengkapi gambar anda dengan keterangan.
Preparat Tulang Padat.
1. Mintalah preparat tulang padat pada asisten anda dan dengan menggunakan
mikroskop, amati preparat dengan perbesaran lemah (10X10), kemudian dengan
perbesaran kuat (10X40).
2. Gambar hasil pengamatan anda baik dengan perbesaran lemah dan perbesaran kuat.
Dengan perbesaran kuat, amati satu buah sistem osteon, yang terdiri atas lakuna,
kanal sentral, lamela tulang, kanalikuli, dan kanalis Haversi. Lengkapi gambar anda
dengan keterangan.
Preparat Otot Polos.
1. Mintalah preparat otot polos pada asisten anda dan dengan menggunakan mikroskop,
amati preparat dengan perbesaran lemah (10X10), kemudian dengan perbesaran kuat
(10X40).
2. Gambar hasil pengamatan anda dan beri keterangan selengkapnya.
Preparat Otot Skelet.
1. Mintalah preparat otot skelet pada asisten anda dan dengan menggunakan mikroskop,
amati preparat dengan perbesaran lemah (10X10 ), kemudian dengan perbesaran kuat
(10X40).
2. Amati preparat otot serat melintang irisan membujur dan irisan melintang, dengan
menggunakan perbesaran kuat tentang bentuk sel yang berupa serabut dan adanya
inti, garis gelap (anisotrop) dan garis terang (isotrop). Dimanakah letak intinya?
3. Gambar preparat anda dan beri keterangan selengkapnya.
Preparat Otot Jantung.
1. Mintalah preparat otot jantung pada asisten anda dan dengan menggunakan mikroskop,
amati preparat dengan perbesaran lemah (10X10 ), kemudian dengan perbesaran kuat
(10X40).
2. Amati preparat anda dengan menggunakan perbesaran lemah dan kuat dan bandingkan
dengan preparat otot rangka.
3. Gambar preparat anda dan beri keterangan selengkapnya.
Preparat Jaringan Saraf.
1. Mintalah jaringan saraf pada asisten anda dan dengan menggunakan mikroskop, amati
preparat dengan perbesaran lemah (10X10), kemudian dengan perbesaran kuat
(10X40).
2. Gambar hasil pengamatan anda baik dengan perbesaran lemah dan perbesaran kuat.
Dengan perbesaran kuat, amati satu neuron : badan sel, inti, akson, dan dendrit.
Lengkapi gambar anda dengan keterangan.
Langganan:
Postingan (Atom)


